Saudaraku sembunyikanlah amalmu
.
.
Janganlah menceritakan kepada orang lain amal yang telah dilakukan, karena khawatir bisa membahayakan niat yang ada pada hati…
Siapakah yang bisa menjamin bahwa kita pasti akan terjaga niatnya ketika selesai menceritakan amal kepada orang lain ?
Dan itu bukanlah contoh dari perilaku orang-orang yang shalih. Bacalah kisah dibawah ini :
(1). Abdullah bin ‘Amru رضي الله عنه menceritakan hadits kepada Ibnu ‘Umar رضي الله عنه , ia berkata : Aku mendengar Rasulullah صلى الله عليه والسلام bersabda : “Barangsiapa yang memperdengarkan amalnya kepada manusia, niscaya Allah سبحانه وتعالى akan perdengarkan amal tersebut kepada makhluk-Nya yang dapat mendengar. Dan Allah سبحانه وتعالى pun akan merendahkan dan meremehkannya”. Laki-laki itu berkata : “(Mendengar itu), menangislah mata ‘Abdullah bin ‘Umar رضي الله عنه .”
(Diriwayatkan oleh Ahmad II/195)
(2). Nu’aim bin Hammad رحمه الله menuturkan bahwa ia pernah mendengar Ibnul Mubarak رحمه الله berkata : “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih tinggi derajatnya dari pada Malik رحمه الله .Dia tidak banyak memiliki shalat dan puasa, namun dia memiliki banyak amal yang disembunyikan dan dirahasiakan”(Nuzhatul Fudhala’ II hal 621).
(3). Abu Bakar al-Marwazi رحمه الله berkata : “Suatu hari Ahmad bin Hambal رحمه الله menyebut-nyebut tentang Ibnul Mubarak رحمه الله dan ia berkata : “Allah سبحانه وتعالى tidak meninggikan derajatnya melainkan karena kerahasiaan yang dimilikinya” (Shifatus Shafwah IV hal 104).
(4). Yahya bin Ma’in رحمه الله berkata : “Aku tidak melihat orang seperti Ahmad bin Hambal رحمه الله . Aku menemaninya selama 50 tahun, dan ia tidak menyebutkan sedikitpun pada kami kebaikan yang ia lakukan”
(5). Semasa hidup Imam al-Mawardi رحمه الله, tidak ada satu pun karyanya yang dikeluarkan. Ia menulis karya dengan menghabiskan umurnya, berjaga pada malam hari dan tidak tidur, namun setelah semuanya rampung, dia inginkan agar buku-buku itu dilempar ke sungai Dajlah, karena dia takut riya’.
Dia berkata kepada seseorang :
“Jika aku dalam keadaan sakaratul maut, peganglah tanganku. Jika aku menggenggam tanganmu, maka ketahuilah ini berarti tidak ada satu pun karyaku yang diterima-Nya. Jika demikian, ambillah seluruh karyaku dan lemparkan semuanya ke sungai Dajlah pada malam hari.
Jika aku membentangkan telapak tanganku dan tidak menggenggam tanganmu saat mati, maka ketahuilah bahwa karyaku diterima, sebab aku mendapatkan niat ikhlas yang kuharapkan.
Ternyata dia membentangkan telapak tangnnya dan tidak menggenggam tanganku. Aku pun tahu, ini tanda diterima amalnya. Sehingga setelah itu aku pun mengedarkan buku-buku hasil karyanya” (Siyar A’laamin Nubalaa’ oleh Imam adz-Dzahabi 18/66-67).
Mereka para imam saja seperti itu, khawatir amalnya tidak ikhlas sehingga lebih suka menyembunyikan amal kebaikannya. Lalu bagaimana dengan orang yang baru belajar dan mengamalkan Islam, kemudian merasa yakin akan selamat dari bisikan syaitan seperti riya, sum’ah dan ujub ?
Orang yang ikhlas adalah orang yang berusaha menyembunyikan berbagai macam kebaikannya, seperti ia menyembunyikan berbagai macam kejelekannya.
.
.
Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى
Ref : http://bbg-alilmu.com/archives/31511
Blog ini mendokumentasikan informasi dari grup WA liqo, ringkasan kajian dan dari mana saja ilmu itu berasal. Semoga bermanfaat.
Friday, 26 October 2018
Monday, 22 October 2018
Makna salam Assalamu'alaikum
Pada suatu masa ketika Rasulullah meng-ila' istri beliau, dan Rasulullah mendirikan tenda dalam masjid, Abu Bakar (atau Umar ya cmiiw, kemarin asyik mendengarkan cerita jadi gak mencatat, ihiks) minta ijin masuk. Hingga 3 kali tidak di ijinkan, akhirnya Abu bakar berkata bahwa dia hanya ingin mengucapkan Assalamu'alaikum kepada Rasulullah.
Ada lagi kisah yang lain. Rasulullah pernah berkunjung ke salah satu rumah sahabat dan mengucapkan salam Assalamu'alaikum, karena tidak mendengar jawaban dari dalam rumah (padahal sebetulnya di dalam rumah itu ada orangnya) Rasulullah sampai mengulang 3 kali. Begitu 3 kali tidak dijawab salamnya, maka adabnya adalah meninggalkan rumah. Maka Rasulullah beranjak meninggalkan rumah. Saat Rasulullah berjalan untuk meninggalkan rumah, sahabat yang ada di dalam rumah langsung lari keluar rumah dan mengejar dan kemudian menjelaskan bahwa dia sudah menjawab salam dari Rasulullah, tetapi dengan suara yang pelan. "Karena kalau kau sudah mendengar balasan dariku sejak salam yang pertama, maka doa keselamatan untukku hanya sampai di situ saja ya Rasulullah"
Masya Allah, mendengarkan cerita itu kemarin, kok aku jadi terharu, antara sedih dan senang. Senang karena ternyata "hanya" ucapan salam itu mengandung doa yang dahsyat.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh: Semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahanNya terlimpah kepada kalian.
Sedih karena aku sering meremehkan ucapan salam itu
:( Astaghfirullah...
Dan, kalau dihubungkan dengan 2 cerita di atas, para sahabat sering mengucapkan salam, terutama kepada Rasulullah, karena salam itu adalah doa dan doa Rasulullah dikabulkan Allah SWT.
Wa'alaikumsalam warahmarullahi wabarakatuh: Dan semoga keselamatan dan rahmat Allah serta keberkahanNya terlimpah juga kepada kalian.
Catatan : aku ambil dari fb-ku, merupakan catatan sedikit dari kajian tafsir setiap Rabu di masjid GTA.
Saturday, 20 October 2018
Rumahku Surgaku
/ Rumahku Surgaku /
Oleh : Wardah Abeedah
Jika ada surga di dunia ini, maka surga yang paling diharapkan manusia adalah surga di dalam rumahnya, dalam pernikahannya, dan dalam keluarganya.
Rumah adalah tempat dimana manusia menghabiskan sebagian besar waktu dalam hidupnya. Sedangkan pasangan yang Allah amanahkan dalam pernikahan, kemungkinan besar adalah manusia yang paling lama membersamainya.
Allah sebagai Zat Yang Maha Mengetahui fitrah manusia, mengajarkan manusia untuk mengharapkan kebaikan di dunia dan akhirat.
Diajarkan pada kita sebuah doa,
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al-Baqarah (2) : 201).
---
Ketika Allah menetapkan syariat pernikahan sebagai jalan menyalurkan naluri melestarikan jenis, Allah menjadikan pernikahan sebagai tempat ketenangan bagi pasangan suami-istri.
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al-Baqarah (2) : 201).
---
Ketika Allah menetapkan syariat pernikahan sebagai jalan menyalurkan naluri melestarikan jenis, Allah menjadikan pernikahan sebagai tempat ketenangan bagi pasangan suami-istri.
Sebagaimana firman-Nya,
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakan-Nya untuk kalian istri-istri dari diri kalian sendiri —supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya— dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. ar-Rûm [30]: 21).
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah diciptakan-Nya untuk kalian istri-istri dari diri kalian sendiri —supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya— dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. ar-Rûm [30]: 21).
Sakinah (ketentraman), mawaddah (saling mencintai dan mengasihi) dan rahmah (kasih sayang) yang ada dalam pernikahan tidak terwujud begitu saja. Ia adalah hasil dari proses atau usaha. Allah yang Maha Baik menetapkan beberapa syariat dalam pernikahan yang akan menjadikan ketiganya terwujud. Syariat-syariat tersebut berupa kewajiban suami yang menjadi hak isteri, serta kewajiban isteri yang menjadi hak suami.
Syariat itu telah diteladankan oleh Rasulullah Muhammad SAW, manusia yang paling mulia.
Rumah Rasulullah SAW dan istri-istrinya memang hanya beratap pelepah kurma, berlantaikan tanah. Ukuran rumahnya tak seluas kamar di dalam istana Kisra, pun perabot yang dimiliki jauh lebih sedikit dari perabot dapur Istana Hiraklius di Romawi.
Namun ketakwaan tiap individu penghuni rumah terwujud dalam tiap ucapan dan perbuatan.
Terejawantahkan pula dalam kehidupan berumahtangga. Semua ini menjadikan rumah Beliau bak surga yang didambakan setiap insan.
Berikut ketetapan Allah terkait kewajiban suami yang menjadi hak istri :
Terejawantahkan pula dalam kehidupan berumahtangga. Semua ini menjadikan rumah Beliau bak surga yang didambakan setiap insan.
Berikut ketetapan Allah terkait kewajiban suami yang menjadi hak istri :
1. Menafkahi keluarganya
“Dan kewajiban ayah memberikan makanan dan pakaian kepada ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak akan dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya.”[TQS. Al-Baqarah:233]
Imam Ibnu Katsir menuturkan, bahwa seorang ayah wajib memberikan nafkah dan pakaian kepada anak-anaknya dengan cara yang ma'ruf. Yang dimaksud dengan "ma'ruf" di sini adalah, sesuai dengan kepatutan yang berlaku di negerinya, tidak berlebihan, dan sesuai dengan kemampuan dirinya [ Tafsir Ibnu Katsir]
2. Pemimpin dalam rumah tangga.
Allah SWT dalam hal ini berfirman, "Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian dari mereka atas sebagian yang lainnya dan karena mereka telah membelanjakan sebagian harta mereka. (Qs. An-Nisaa’: 34).
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. [HR. Bukhari]
Pemimpin bukanlah raja atau tukang perintah. Akan tetapi Qowwam (pemelihara dan penanggungjawab) terhadap semua urusan yang dipimpinnya (pengaturan dan pemeliharaan urusan rumah tangga).
Kepemimpinan yang ada haruslah diwarnai persahabatan, bukan kepemimpinan yang otoriter. Sebab, hubungan keduanya adalah hubungan antara dua orang sahabat, bukan penguasa dan rakyat.
Seorang isteri berhak memberi masukan terhadap ucapan suaminya, mendiskusikannya dan membahas apa yang dikatakan suaminya. Sebagaimana yang terjadi dalam rumah tangga Rasululllah SAW, ketika Ummu Salamah memberi masukan pada peristiwa Hudaybiyah dan Rasulullah mengambil pendapatnya.
3. Mempergauli istrinya dengan baik.
"Dan pergauilah isteri-isteri kalian dengan baik. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (Qs. an-Nisaa’: 19)
Allah SWT juga berfirman, “Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (TQS an-Nisâ [4]: 34)
Rasulullah SAW pernah berpesan dalam khutbah Beliau pada saat Haji Wada‘:
“Bertakwalah kalian kepada Allah dalam urusan kaum wanita, karena sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanat dari Allah, dan kalian pun telah menjadikan kemaluan mereka halal bagi kalian dengan kalimat Allah.
Kalian memiliki hak atas isteri-isteri kalian agar mereka tidak memasukkan ke tempat tidur kalian seorang pun yang tidak kalian sukai. Jika mereka melakukan tindakan itu, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak kuat (tidak menyakitkan/meninggalkan bekas). Sebaliknya, mereka pun memiliki hak terhadap kalian untuk mendapatkan rezeki”
Beliau juga bersabda, “Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada keluarga (isteri)-nya. Dan aku adalah orang yang paling baik dari kalian terhadap keluarga (isteri)-ku.” (HR al-Hâkim dan Ibn Hibbân dari jalur ’Aisyah RA)
Nabi SAW bergaul secara indah dan dan terbiasa bersenda-gurau dengan isteri-isteri Beliau. Beliau senantiasa bersikap lemah lembut kepada mereka, sering membuat mereka tertawa, dan bahkan Beliau pernah berlomba lari dengan Ibunda ‘Aisyah RA.
4. Suami wajib menyediakan apa saja yang dibutuhkan oleh isterinya yang berasal dari luar rumah.
Diriwayatkan dari Nabi SAW berkaitan dengan kisah ‘Alî dan Fathimah radhiyallâh ‘anhumâ:
“Rasulullah SAW telah memutuskan atas putri Beliau, Fathimah, wajib mengerjakan pekerjaan-pekerjaan di dalam rumah, dan atas ‘Alî wajib mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan di luar rumah.”
---
Sedangkan kewajiban istri yang menjadi hak suami, diantaranya:
---
Sedangkan kewajiban istri yang menjadi hak suami, diantaranya:
1. Menaati suami
“Jika seorang isteri tidur malam meninggalkan tempat tidur suaminya niscaya para malaikat akan melaknatnya sampai ia kembali.” (Muttafaq ’alayh dari jalur Abû Hurayrah)
Rasulullah SAW pernah bertanya kepada seorang wanita: “Apakah engkau sudah bersuami?” Wanita itu menjawab: “Ya”. Beliau lantas bersabda: “Sesungguhnya ia (suamimu) adalah surga atau nerakamu.” (HR al-Hâkim dari jalur bibinya Husayn bin Mihshin)
2. Meminta izin ketika keluar rumah, ketika akan memasukkan tamu ke dalam rumah, saat akan melaksanakan puasa Sunnah dan memakai harta suami di luar dari amanah yang diberikan.
Mengenai dalil izin suami, telah masyhur hadits seorang wanita yang diampuni dosanya karena menaati perintah suaminya untuk tidak keluar rumah ketika sang suami sedang safar. Padahal saat itu ayahnya sedang sakit parah dan kemudian meninggal, namun Rasulullah tak bisa membatalkan perintah suaminya karena Allah memberikan hak bagi para lelaki untuk melarang isterinya keluar rumah.
Adapun dalil tentang izin ketika akan berpuasa dan memasukkan tamu ke dalam rumah adalah berdasarkan sabda Rasulullah SAW,
“Tidak halal bagi seorang wanita berpuasa sementara suaminya ada di rumah, kecuali dengan izinnya. Tidak halal pula baginya memberikan izin masuk (kepada orang lain) di rumah suaminya kecuali dengan izinnya. Dan harta apa saja yang dibelanjakannya tanpa seizin suaminya, maka separuh pahalanya dikembalikan kepada suaminya.” (HR. Bukhari)
3. Melayani suaminya; termasuk membuat adonan roti, memasak, membersihkan rumah, menyediakan makanan, dalam seluruh perkara yang sudah semestinya ia lakukan di dalam rumah.
Demikian pula isteri wajib mengerjakan apa saja yang menjadi keharusan guna mengurus rumah, yaitu apa saja yang menjadi tuntutan bagi sebuah kehidupan yang nyaman di rumah tanpa dibatasi.
Rasulullah SAW memerintahkan kepada isteri-isteri Beliau untuk melayani Beliau. Beliau, misalnya, berkata: “Ya ‘Aisyah, tolong ambilkan aku minum”, “Ya ‘Aisyah, tolong ambilkan aku makan, “Ya ‘Aisyah, tolong ambilkan aku pisau dan asahlah dengan batu.”
Diriwayatkan pula: “Bahwa Fathimah pernah datang kepada Rasulullah SAW mengadukan apa yang diderita tangannya karena menggiling gandum dan meminta kepada Beliau seorang pembantu yang dapat meringankan pekerjaannya.” (Muttafaq ‘alayh dari jalur ‘Alî)
Di hadits sebelumnya juga disebutkan bahwa Rasulullah mewajibkan Fatimah melaksanakan pekerjaan rumah tangga yang terdapat di dalam rumah, sementara Ali melakukan pekerjaan-pekerjaan di luar rumah.
4. Menjaga kehormatannya, kehormatan suami, harta suami dan anak-anaknya.
Allah SWT berfirman, “Wanita yang shalihah ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). (Qs. an-Nisaa’: 34).
---
---
Selain itu, baik suami maupun istri sama-sama memiliki kewajiban untuk menjaga dirinya, pasangannya dan seluruh keluarganya dari api neraka. Dengan beramar makruf dan nahi munkar dan saling menasihati.
Sebagaimana firman Allah,
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu" (Qs. at-Tahriim: 6).
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu" (Qs. at-Tahriim: 6).
Semua kewajiban ini harus dilaksanakan dengan ikhlas, yakni berharap ridho Allah semata. Bukan karena ridho suami atau yang lainnya. Karena melaksanakan kewajiban-kewajiban tadi adalah sebuah ibadah yang akan mendatangkan ridho Allah ketika kita melakukannya, serta mendapatkan dosa dan murka Allah ketika kita meninggalkannya.
Sakinah adalah buah dari ketaatan suami maupun isteri kepada Syari’at Allah, utamanya Syariat tentang kewajiban suami dan istri.
Ketaatan inilah yang akan mewujudkan surga di rumah-rumah kaum muslimin, Sehingga menentramkan dan membahagiakan seluruh penghuninya. Allahu a’lam bis shawab.
—————————————
Silakan share dan follow
FB, IG, Telegram, dan Twitter
@MuslimahNewsID
Silakan share dan follow
FB, IG, Telegram, dan Twitter
@MuslimahNewsID
Di copas dari
https://www.facebook.com/noorma.melati/posts/1951669658260796
Friday, 19 October 2018
Al Mu'min ayat 60
Dan tadi begitu baca terjemahannya, langsung mewek... betapa sayangnya Allah Subhanallahu Wa Ta'ala kepada mahkluk-Nya ini.
Kenikmatan
NIKMAT ITU...
✍🏻 Oleh Ustadz Muhammad Sulhan Jauhari, Lc, M.H.I
Nikmat itu...
ketika engkau beriman kepada Allah dan segala yang datang dari-Nya, lalu engkau mengamalkan konsekuensinya.
Nikmat itu...
ketika engkau diberi mata, mulut, telinga, tangan, kaki dan anggota tubuh lengkap lainnya, lalu engkau menggunakannya untuk beribadah kepada-Nya, untuk mengerjakan kebaikan.
Nikmat itu...
ketika engkau masih diberikan waktu untuk menuntut ilmu di sela-sela hari padatmu, lalu engkau mengamalkan pesan-pesan yang engkau tulis atau tangkap dalam benakmu.
Nikmat itu...
ketika engkau diberikan pemahaman yang benar, tidak neko-neko, apalagi sampai nyeleneh berpendapat yang aneh-aneh.
Nikmat itu...
ketika engkau diberi taufik dan kemudahan oleh Allah untuk tunduk dan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.
Nikmat itu...
ketika engkau diberikan kesehatan dan dapat memanfaatkannya untuk kebaikan.
Nikmat itu...
ketika engkau diberikan harta, lalu engku pergunakan dengan sebaik-baiknya sesuatu tuntutan.
Nikmat itu...
ketika engkau dimudahkan menjaga shalat lima waktu lengkap dengan rawatibnya.
Nikmat itu...
ketika engkau punya suami/istri yang shaleh/ha, yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang mendukungmu apabila engkau berbuat ketaatan dan mengingatkanmu ketika engkau lalai serta selalu mendoakan agar dirimu diberikan kebaikan oleh-Nya.
Nikmat itu...
ketika engkau dimudahkan mengerjakan ketaatan; qiyamul lail, tilawah al-Quran, zikir kepada-Nya, rutin bersedekah, dan menjaga sunnah-sunnah lainnya.
Nikmat itu...
ketika engkau punya sahabat yang siap membantu dan selalu ada dalam suka dan duka.
Nikmat itu...
ketika engkau diberi kesempatan untuk berbakti kepada orang tua ketika mereka masih ada, bahkan setelah mereka meninggal dunia.
Nikmat itu...
ketika engkau ringan membantu orang lain, mudah berbagi kepada kanan kiri.
Nikmat itu...
ketika badanmu terasa lelah, letih, lesu, namun hati tetap menjaga zikir kepada-Nya.
Nikmat itu...
ketika engkau dimudahkan menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan.
Nikmat itu...
ketika engkau dapat istiqomah menjaga adab-adab ringan; mengucap Bismillah sebelum makan, makan dengan tangan kanan, masuk masjid mendahulukan kaki kanan dan keluar mendahulukan yang kiri, keluar atau masuk toilet membaca doa, dstnya.
Singkatnya, nikmat itu...
ketika engkau diberi taufik untuk mengerjakan yang baik dan dihindarkan dari melakukan yang tidak baik.
Ternyata, nikmat-Nya itu, benar-benar tak terhingga.
Semoga kita dimudahkan untuk mensyukurinya.
✍🏻 Oleh Ustadz Muhammad Sulhan Jauhari, Lc, M.H.I
Nikmat itu...
ketika engkau beriman kepada Allah dan segala yang datang dari-Nya, lalu engkau mengamalkan konsekuensinya.
Nikmat itu...
ketika engkau diberi mata, mulut, telinga, tangan, kaki dan anggota tubuh lengkap lainnya, lalu engkau menggunakannya untuk beribadah kepada-Nya, untuk mengerjakan kebaikan.
Nikmat itu...
ketika engkau masih diberikan waktu untuk menuntut ilmu di sela-sela hari padatmu, lalu engkau mengamalkan pesan-pesan yang engkau tulis atau tangkap dalam benakmu.
Nikmat itu...
ketika engkau diberikan pemahaman yang benar, tidak neko-neko, apalagi sampai nyeleneh berpendapat yang aneh-aneh.
Nikmat itu...
ketika engkau diberi taufik dan kemudahan oleh Allah untuk tunduk dan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam.
Nikmat itu...
ketika engkau diberikan kesehatan dan dapat memanfaatkannya untuk kebaikan.
Nikmat itu...
ketika engkau diberikan harta, lalu engku pergunakan dengan sebaik-baiknya sesuatu tuntutan.
Nikmat itu...
ketika engkau dimudahkan menjaga shalat lima waktu lengkap dengan rawatibnya.
Nikmat itu...
ketika engkau punya suami/istri yang shaleh/ha, yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, yang mendukungmu apabila engkau berbuat ketaatan dan mengingatkanmu ketika engkau lalai serta selalu mendoakan agar dirimu diberikan kebaikan oleh-Nya.
Nikmat itu...
ketika engkau dimudahkan mengerjakan ketaatan; qiyamul lail, tilawah al-Quran, zikir kepada-Nya, rutin bersedekah, dan menjaga sunnah-sunnah lainnya.
Nikmat itu...
ketika engkau punya sahabat yang siap membantu dan selalu ada dalam suka dan duka.
Nikmat itu...
ketika engkau diberi kesempatan untuk berbakti kepada orang tua ketika mereka masih ada, bahkan setelah mereka meninggal dunia.
Nikmat itu...
ketika engkau ringan membantu orang lain, mudah berbagi kepada kanan kiri.
Nikmat itu...
ketika badanmu terasa lelah, letih, lesu, namun hati tetap menjaga zikir kepada-Nya.
Nikmat itu...
ketika engkau dimudahkan menjaga diri dari hal-hal yang diharamkan.
Nikmat itu...
ketika engkau dapat istiqomah menjaga adab-adab ringan; mengucap Bismillah sebelum makan, makan dengan tangan kanan, masuk masjid mendahulukan kaki kanan dan keluar mendahulukan yang kiri, keluar atau masuk toilet membaca doa, dstnya.
Singkatnya, nikmat itu...
ketika engkau diberi taufik untuk mengerjakan yang baik dan dihindarkan dari melakukan yang tidak baik.
Ternyata, nikmat-Nya itu, benar-benar tak terhingga.
Semoga kita dimudahkan untuk mensyukurinya.
Thursday, 18 October 2018
Arti dari Sakinah
Sakinah itu bukan hanya sekedar ketenangan. Ketenangan yang buruk juga bukan sakinah. Apa itu ketenangan yg buruk.
Contoh : Ma, nanti aku ketemu sama temen wanitaku ya. Dan kamu boleh kok ketemu dengan teman pria-mu. Walhasil semuanya jadi tenang, tapi apakah itu yg dimaksud dengan sakinah ?
.
.
Sakinah itu adalah :
1. Suami istri saling menjaga kehormatan.
Saling jaga perasaan. Suatu hal yg lumrah kalau suami ingin istri berdandan cantik dan seksi hanya untuk sang suami dan bukan suatu yg aneh kalau istri keberatan suami menggunakan outfit yg menampakkan aurat saat berolahraga di luar rumah.
Sebagai catatan, suami suka dimanja dengan pemandangan mata. Istri suka dimanja dengan pendengaran. Maka bukan hal yg aneh kalau laki-laki suka melihat fisik yg bagus dan istri suka digombalin wkwkwkwk..
.
.
Contoh : Ma, nanti aku ketemu sama temen wanitaku ya. Dan kamu boleh kok ketemu dengan teman pria-mu. Walhasil semuanya jadi tenang, tapi apakah itu yg dimaksud dengan sakinah ?
.
.
Sakinah itu adalah :
1. Suami istri saling menjaga kehormatan.
Saling jaga perasaan. Suatu hal yg lumrah kalau suami ingin istri berdandan cantik dan seksi hanya untuk sang suami dan bukan suatu yg aneh kalau istri keberatan suami menggunakan outfit yg menampakkan aurat saat berolahraga di luar rumah.
Sebagai catatan, suami suka dimanja dengan pemandangan mata. Istri suka dimanja dengan pendengaran. Maka bukan hal yg aneh kalau laki-laki suka melihat fisik yg bagus dan istri suka digombalin wkwkwkwk..
.
.
2. Ada saling kecenderungan antara suami istri.
Contoh yg paling seru adalah saat ada laki-laki di depan kita adalah cawapres negeri ini (ehm), aktor yg ganteng, dokter yg ganteng dan pinter, dan ada suami kita. Siapa yg kita lihat pertama kali ? SUAMI. Itu yg dinamakan kecenderungan.
.
.
Contoh yg paling seru adalah saat ada laki-laki di depan kita adalah cawapres negeri ini (ehm), aktor yg ganteng, dokter yg ganteng dan pinter, dan ada suami kita. Siapa yg kita lihat pertama kali ? SUAMI. Itu yg dinamakan kecenderungan.
.
.
3. Ada rasa saling memahami.
Tahu apa maunya suami/istri tanpa berkata-kata.
.
Tahu apa maunya suami/istri tanpa berkata-kata.
.
4. Tenang dalam kondisi berdekatan maupun berjauhan.
.
.(end)
.
Sedìkit catatan dari kajian tadi pagi di masjid Baabul Jannah Pondok Duta. Ustadzah Indra Asih. Kalau ada salah tulis mohon maaf. Semoga bermanfaat.
.
.
#kajianislam #kajian #rumahtanggaislami
.
.(end)
.
Sedìkit catatan dari kajian tadi pagi di masjid Baabul Jannah Pondok Duta. Ustadzah Indra Asih. Kalau ada salah tulis mohon maaf. Semoga bermanfaat.
.
.
#kajianislam #kajian #rumahtanggaislami
Wednesday, 17 October 2018
Sekelumit tafsir Al Qodar ayat 5
سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.
Lailatul qodar berakhir saat fajar, tapi kapan mulainya ? Di surat ini tidak disebutkan dengan jelas kapan mulainya. Allah Subhanallahu Wa Ta'ala berfirman hanya akhir dari lailatul qodar saja tanpa merinci kapan awalnya.
Salah satu penafisrannya adalah, bahwa bagian terakhir hidup kita adalah yang terpenting. Apabila di awalnya banyak beribadah tapi saat akhir (sakratul maut) ternyata ingkar, maka semua amalan akan sia-sia.
وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari, no. 6607)
Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/13187-amalan-tergantung-pada-akhirnya.html
Jangan Terkagum
Sehingga jangan terkagum pada amalan kita saat ini. Karena akhir hayat itulah penentunya, apakah benar kita bisa istiqamah.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« لاَ عَلَيْكُمْ أَنْ لاَ تُعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَاناً مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً سَيِّئاً وَإِنَّ الْعَبْدَ لِيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلاً صَالِحاً وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْراً اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ « يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ »
“Janganlah kalian terkagum dengan amalan seseorang sampai kalian melihat amalan akhir hayatnya. Karena mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan amalan yang shalih, yang seandainya ia mati, maka ia akan masuk surga. Akan tetapi, ia berubah dan mengamalkan perbuatan jelek. Mungkin saja seseorang beramal pada suatu waktu dengan suatu amalan jelek, yang seandainya ia mati, maka akan masuk neraka. Akan tetapi, ia berubah dan beramal dengan amalan shalih. Oleh karenanya, apabila Allah menginginkan satu kebaikan kepada seorang hamba, Allah akan menunjukinya sebelum ia meninggal.” Para sahabat bertanya,
“Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu.” (HR. Ahmad, 3: 120, 123, 230, 257 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah 347-353 dari jalur dari Humaid, dari Anas bin Malik. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat shahih Bukhari – Muslim. Lihat pula Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1334, hal yang sama dikatakan oleh Syaikh Al-Albani)
“Apa maksud menunjuki sebelum meninggal?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu memberikan ia taufik untuk beramal shalih dan mati dalam keadaan seperti itu.” (HR. Ahmad, 3: 120, 123, 230, 257 dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah 347-353 dari jalur dari Humaid, dari Anas bin Malik. Syaikh Syu’aib Al-Arnauth dalam Tahqiq Musnad Imam Ahmad mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat shahih Bukhari – Muslim. Lihat pula Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 1334, hal yang sama dikatakan oleh Syaikh Al-Albani)
Oleh karenanya, penting sekali amalan yang kontinu dan menjadi akhir hidup dengan penutup terbaik yaitu husnul khatimah.
Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/13187-amalan-tergantung-pada-akhirnya.html
Subscribe to:
Posts (Atom)
Agar musibah Anda berpahala... Agar kesedihan Anda seakan tiada
Copy paste dari grup GTA. Semoga bermanfaat. Agar musibah Anda berpahala... Agar kesedihan Anda seakan tiada... ======= Seringkali seseorang...
-
Copy paste dari grup GTA. Semoga bermanfaat. Agar musibah Anda berpahala... Agar kesedihan Anda seakan tiada... ======= Seringkali seseorang...
-
Pengantar. Di bulan Ramadhan 1440 H ini, alhamdulillah masjid darussalam di komplek rumah mangadakan kajian pagi jam 08.00 - 10.00 selasa h...









