Saturday, 17 April 2021

335. PEMBERIAN SEDERHANA 'TUK TETANGGA | Riyaadhush Shaalihiin (catatan dari peserta lain, bukan catatanku)

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Pembelajaran dari hadits di atas adalah sebagai berikut; Part One

Pentingnya saling memberi hadiah diantara kita walaupun sedikit, sederhana atau kecil, ini dijelaskan oleh Al Imam Ibnu Hajar mengatakan, Hadist ini adalah anjuran saling memberi hadiah walaupun hanya sedikit, karena hal yang besar itu seringkali tidak mudah untuk diberikan setiap saat. Dan ini anjuran Nabi ﷺ walaupun hanya sedikit, Para ulama mengatakan bahwa memberi hadiah itu akhlak seorang Muslim dan sifat inilah yang harus dimiliki oleh kita sebagai Muslim. Hubungan pertemanan dan persahabatan harus diisi dengan saling memberikan hadiah, karena tujuannya untuk menumbuhkan kasih sayang dan rasa cinta. Nabi ﷺ bersabda, “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencinta” (HR Abu Ya’la), dan dalam Hadits riwayat At-Tirmidzi, Nabi ﷺ bersabda, “Hendaknya kalian saling memberikan hadiah, karena hadiah dapat menghilangkan sifat benci dalam dada, dan janganlah seseorang meremehkan pemberian tetangganya walaupun hanya secuil kaki kambing”. Al Jauhari berkata, فِرْسِنَ  adalah kikil unta seperti الحافر untuk (istilah kikil) dari hewan lain”, ia berkata, “Dan terkadang فِرْسِنَ dipinjam untuk menyebut kikil kambing”. Dalam hadits lain Nabi ﷺ “Api Neraka merasa takut walaupun dengan sebiji kurma (yang kalian berikan untuk orang yang lapar)” (HR. Imam Bukhari). Nabi ﷺ itu tidak pernah menolak hadiah dan berusaha membalas kalau dikasih sesuatu, (HR Imam Bukhari). Dari Abu Dzar beliau berkata: “Kekasihku ﷺ telah berwasiat kepadaku, jika kamu memasak kuah daging maka perbanyak kuahnya kemudian lihat keluarga tetanggamu dan berikanlah sebagian kepada mereka” (Hadits Muslim). Ini ajaran Nabi dan inilah Islam yang real. Maksudnya, janganlah seorang tetangga mengurungkan niat untuk memberi sedekah atau hadiah kepada tetangga hanya karena menganggap bahwa yang akan diberikan itu rendah nilainya atau tidak begitu berharga, sebaliknya hendaklah dia mendermakan apa saja yang mungkin, meskipun sedikit, misalnya kikil kambing, Allah berfirman dalam QS Al Zalzalah;7 yang berbunyi;
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
Yang artinya, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya”. (QS Al Zalzalah; 7).

Hadits ini menunjukkan bahwa pentingnya berbuat baik kepada tetangga, makanya yang diangkat dalam hadits ini adalah Tetangga. Dalam hadits Bukhari Muslim, Nabi berkata, “Jibril senantiasa berwasiat kepadaku dengan tetangga sehingga aku menyangka tetangga tersebut akan mewarisinya”, dan malaikat secara terus menerus menasehati Nabi untuk hal ini, karena tetangga itu dianggap keluarga dekat. Hadits yang agung ini menunjukkan urgensi dan kedudukan tetangga dalam Islam. Tetangga memiliki kedudukan yang penting dan hak-hak yang harus diperhatikan setiap Muslim. Sehingga dengan demikian konsep Islam sebagai rahmat untuk alam semesta dapat direalisasikan dan dirasakan oleh setiap manusia. Kata Al Jaar (tetangga) dalam bahasa Arab berarti orang yang bersebelahan denganmu. Sedang secara istilah syar’i bermakna orang yang bersebelahan secara syar’i baik dia seorang Muslim atau kafir, baik atau jahat, teman atau musuh, berbuat baik atau jelek, bermanfaat atau merugikan dan kerabat atau bukan. Tetangga memiliki tingkatan, sebagiannya lebih tinggi dari sebagian yang lainnya, bertambah dan berkurang sesuai dengan kedekatan dan kejauhannya, kekerabatan, agama dan ketakwaannya serta yang sejenisnya. Sehingga diberikan hak tetangga tersebut sesuai dengan keadaan dan hak mereka. Adapun batasannya masih diperselisihkan para ulama, diantara pendapat mereka adalah: Batasan tetangga yang mu’tabar adalah 40 rumah dari semua arah. Hal ini disampaikan oleh Aisyah رضي الله عنها, Az Zuhri dan Al Auzaa’I 10 rumah dari semua arah. Orang yang mendengar adzan adalah tetangga. Hal ini disampaikan oleh Imam Ali bin Abi Tholib رضي الله عنه. Tetangga adalah yang menempel dan bersebelahan saja. Batasannya adalah mereka yang disatukan oleh satu masjid. Yang rajih insya Allah, batasannya kembali kepada adat yang berlaku. Apa yang menurut adat tetangga adalah tetangga. Wallahu A’lam. Dengan demikian jelaslah tetangga rumah adalah bentuk yang paling jelas dari hakikat tetangga, akan tetapi pengertian tetangga tidak hanya terbatas pada hal itu saja bahkan lebih luas lagi. Karena dianggap tetangga juga tetangga di pertokoan, pasar, lahan pertanian, tempat belajar dan tempat-tempat yang memungkinkan terjadinya ketetanggaan. Demikian juga teman perjalanan karena mereka saling bertetanggaan baik tempat atau badan dan setiap mereka memiliki kewajiban menunaikan hak tetangganya. Makanya interaksi Iman kita selalu dikaitkan dengan tetangga, Telah dijelaskan diatas akan kedudukan tetangga yang tinggi dan hak-haknya terjaga dalam islam. Oleh karena itu Rasulullah ﷺ memperingatkan dengan keras upaya mengganggu tetangga, sebagaimana dalam sabda beliau ﷺ, “Tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman, tidak demi Allah tidak beriman mereka bertanya: siapakah itu wahai Rasulullah ﷺ beliau menjawab: “Orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya”. 

Islam telah berwasiat untuk memuliakan tetangga dan menjaga hak-haknya, bahkan Allah menyambung hak tetangga dengan ibadah dan tauhidNya serta berbuat bakti kepada kedua orang tua, anak yatim dan kerabat, Allah berfirman dalam QS An Nisa; 36 yang berbunyi;
۞ وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Yang artinya, “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri”. (QS An-Nisa; 36)

Continued to part two 

Mohon maaf dan juga koreksinya jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum, والله أعلم بالصواب Barakallahu fikum…
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

Jakarta, Jum’at, 19 Sa’ban 1442 AH/2 April 2021 M
Ahida Muhsin


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhبِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
Pembelajaran dari hadits di atas adalah sebagai berikut; Part Two (Final)
Nabi ﷺ memanggil kaum wanita dalam hadits ini, “Wahai wanita Muslimah“ padahal kita tahu perintahnya atau larangannya itu tidak khusus untuk wanita, ini untuk wanita dan laki-laki, kecuali perintahnya wahai wanita yang lagi haid, atau menyusui dan itu cocok, tetapi dalam hadits ini tidak, dan ini kaidah Ilmu usul fiqih, kalau ada dalil sesuatu yang berlaku untuk laki-laki maka berlaku juga untuk wanita begitupun juga sebaliknya, kecuali ada penghususan contohnya wanita disuruh menyusi bayinya sampai usia 2 tahun. Tetapi kenapa Nabi memanggil wanita? Menurut para ulama mengatakan, karena seringkali masalah dan drama dilingkungan tetangga itu terjadi diantara ibu-ibu atau perempuan dan seringkali karena sebab yang tidak penting dan jadi rame. Dan seringkali dan sungkan atau meremehkan kalau memberi itu banyaknya ibu-ibu, padahal bapak-bapaknya menganjurkan. 
Ulama mengatakan seperti Al Imam Ibnu Hajar hadist ini bermakna untuk yang mendapatkan hadiah, “Dan hadits ini cocok dua makna yaitu yang memberi dan menerima hadiah tidak boleh meremehkan, bagi yang memberi jangan merasa tidak pantas, dan yang menerima tidak boleh meremehkan”.
Kisah Ka’ab bin Malik, ketika taubatnya tidak diterima, beliau masuk dan mendatangi Talhah lalu Talhah bin Ubaidillah berdiri, menyambut dan menghampiri beliau menyalami, dan menyalami beliau dan berkata “Aku tidak pernah melupakanmu” dan itu sangat berkesan buat Ka’ab bin Malik.  
Ibnu Hubairah mengatakan, “Diantara tanda ilmu seseorang yang bermanfaat atau kematangan ilmu seseorang, dia tidak pernah meremehkan kebaikan sekecil apapun, karena tidak ada seorangpun yang meremehkan kebaikan kecuali orang yang ilmunya sedikit baik yang memberi maupun yang menerima, karena dari pemberian itu jika dia melihat atau focusnya tertuju kepada apa yang Allah terima, maka tidak boleh bagi dia meremehkan sesuatu yang Allah terima dengan baik”. 
Abdullah Bassam mengatakan, “Kebaikan dan amal sholeh jika tujuannya mencari wajah Allah dan makna yang mulia, maka dampaknya disisi Allah sangat besar, maksudnya tidak boleh meremehakan kebaikan atau pemberian, karena inti dari pemberian itu bukan Fisik, dzohir, branded atau tidak branded, tetapi keikhlasan mencari wajah Allah dan makna yang diberikan dan dibangun oleh si pemberi yaitu kasih sayang dan cinta kasih dan itu mahal dan besar disisi Allah.  
Balaslah yang buruk dengan yang baik , apalagi orang yang berbuat baik, Allah berfirman dalam QS Fushilat; 34 yang berbunyi;وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌYang artinya, “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”.
Mohon maaf dan juga koreksinya jika ada kekeliruan atau kesalahan karena keterbatasan dan kurangnya pemahaman ilmu yang saya miliki dalam merangkum, والله أعلم بالصواب Barakallahu fikum…سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـٰهَ إِلاَّ أَنْتَ، أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
Jakarta, Jum’at, 19 Sa’ban 1442 AH/2 April 2021 MAhida Muhsin


No comments:

Post a Comment

Agar musibah Anda berpahala... Agar kesedihan Anda seakan tiada

Copy paste dari grup GTA. Semoga bermanfaat. Agar musibah Anda berpahala... Agar kesedihan Anda seakan tiada... ======= Seringkali seseorang...