Kajian : 174. ANTARA TAKWA DAN LISAN | Riyaadhushshaalihiin
Bicara takwa jadi ingat dengan APD dan masker di saat pandemic ini. Tujuannya untuk melindungi.
Saat kita berusaha bertakwa, itu untuk perlindungan diri kita. Bukan untuk orang lain. Jadi merasa butuhlah. Supply ketakwaan pada diri kita saat takwa masih gratis. Yang rentan terserang itu adalah kita, karena itu sikaplah diri kita sebagai orang yg butuh. Allah tidak suka dengan orang yg sok-sok-an.
Ketakwaan sebagai lebutuhan utk diri kita sendiri. Dengan menghindari maksiat itu utk melindungi diri kita sendiri. Allah tidak dirugiakan mesti kita tidak sholat, tapi kita tidak punya perndulingan.
Al ahzab 70
Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan melaksanakan syariat-Nya, bertakwalah kepada Allah dengan mengerjakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya serta ucapkanlah ucapan yang benar dan jujur.
Pesan imam Nawawi
Ada ikatan yg sangat kuat antara ketakwaan dan lisan.
Allah gabungkan ketakwaan dan lisan di ayat tersebut di atas.
2 hal ini harus berjalan secara parallel, harus berjalan bersamaan. Dan yg menarik, ketika Allah berfirman, ucapan kalimat yg benar, tujuannya utk menekankan.
Berbohong, mencela, ghibah, termasuk yg dilarang.
Sebetulnya hanya dengan “bertakwa” sudah mengakomodir larangan mencaci, memaki, memfitnah, dll. Tapi kenapa ada lanjutannya, dan bicaralah dengan bicara yg benar.
Seakan-akan bicara dengan benar adalah hal yg independent dengan perintah bertakwa, pdhl sebetunya sama.
Dalam bhs arab, tujuannya mengulangi hal yg sudah tercakup dalam kalimat sebelumnya adalah untuk menekankan.
Pesan dari Allah, jagalh lisan.
Dlm bhs arab ada kata : seseorang itu ada 2 hal, di hati dan lisan. 2 hal itu baik maka hidupnya juga akan baik.
Hati baik, mata, telinga, kaki akan baik. Jika hati baik maka semuanya akan baik.
Riyadhus Sholihin karya Imam Nawawi, Kitab Ad-Da’awaaat (16. Kitab Kumpulan Doa), Bab 250. Keutamaan Doa
Hadits #1483
وَعَنْ شَكَلِ بْنِ حُمَيدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، عَلِّمْنِي دُعَاءً ، قَالَ : قُلْ : اللَّهُمَّ إنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي ، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي ، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي ، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي ، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّيْ
رَوَاهُ أَبُوْ دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِي ، وَقَالَ : حَدِيْثٌ حَسَنٌ
Syakal bin Humaid radhiyallahu ‘anhu, ia pernah berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah ajarkan kepadaku suatu doa.” Maka beliau mengatakan, “Bacalah: ALLOHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN SYARRI SAM’II, WA MIN SYARRI BASHORII, WA MIN SYARRI LISAANII, WA MIN SYARRI QOLBII, WA MIN SYARRI MANIYYI (artinya: Ya Allah, aku meminta perlindungan pada-Mu dari kejelekan pada pendengaranku, dari kejelekan pada penglihatanku, dari kejelekan pada lisanku, dari kejelekan pada hatiku, serta dari kejelekan pada mani atau kemaluanku).”
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan).
Doa minta hati yang bersih, lisan yang bagus.
Salah satu buku terbaik di dunia. Kalua kita ikuti dengan keikhlas-an maka karakter kita akan berubah.
Abdullah bin abu Zakaria
Saya ini mengobati lisan saya supaya bisa terarah, terukur kalua bicara, saya obati selama 20 tahun, itupun belum sesuai dengan keinginan saya.
Makanya tidak heran susah sekali menjaga lisan. Ulama saja 20 tahun masih belum sesuai dengan standard, apalagi kita
Kalau kalian bicara tentang Allah mari kita bicara, kalua kalian bicara tentang manusia saya akan pergi dari sini. Itu aturan Abdulah bin abu Zakaria
“Hey celaka kamu lisan, ngomong yg benar ya, supaya kamu selamat”. Itu omongan Abdullah bin Abbas dengan lisannya sendiri.
Sebaiknya kita marahin lisan kita sendiri.
Seperti apa ucapan yg benar itu ?
Ucapan yg benar itu mencakup semua hal yg baik. Sebagian ulama menyimpulkan :
1. ucapan yang keluar dari niat yang benar. Niatnya karena Allah SWT.
2. konten/isi yg disampaikan itu benar. Bukan hoax, bukan bohong.
3. cara penyampaiannya benar. Banyak yg kontennya benar tapi disampaikan dengan cara yg salah. Cara penyampaian yg benar tergantung lawan bicara kita. Jadi sangat subyektif, sangat fleksibel. Bicara dengan anak beda dengan bicara dengan suami.
4. efek yg ditimbulkan benar, artinya tidak memperkeruh, tidak menimbulkan mudharat yang lebih besar. Kalau bicara bukan hanya mikir apa yg saya sampaikan, bagaimana saya sampaikan dan bagaimana efeknya apakah positif atau negative.
Pikirkan 4 hal itu sebelum bicara.
Kembalikan ke ayat al ahzab 70 dan 71
71. Sesungguhnya jika kalian bertakwa kepada Allah dan mengucapkan ucapan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki bagi kalian amal perbuatan kalian dan menerimanya dari kalian serta menghapus dari kalian dosa-dosa kalian sehingga Dia tidak menyiksa kalian karena dosa itu. Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya maka dia telah mendapatkan kemenangan yang besar, tidak ada kemenangan yang setara dengannya, yaitu kemenangan dengan mendapatkan keridaan Allah dan masuk ke dalam Surga.
anda perbaiki lisan, maka amal akan baik. Sabarnya baik. Sholatnya baik, qonaahnya makin baik, puasanya jadi lebih baik. Semuanya diperbaiki oleh Allah.
Allah ampuni dosa-dosa.
1 hal kita perbaiki, efeknya kemana-mana. LISAN.
Jaga lisan dan jempol.