Sunday, 1 March 2020

Tafsir QS. AlQiyamah ayat 36

Tafsir QS. AlQiyamah ayat 36
Ust. Herfi 
Rabu, 26 Feb 2020
Dalam rangka mengkaji ayat Alquran menjadi sebab kemuliaan, kebaikan hidup kita. Mudah mudahan Allah mengkaruniakan ilmu yg bermanfaat, takut kepada Allah bukan merasa tinggi di hadapan makhluk Allah.
Kita doakan saudara muslim kita, mendapat ujian sakit, semoga Allah tinggikan derajatnya, segera Allah berikan kesembuhan, mengganti apa yg telah hilang dg ganti yg lebih baik.
Mudah mudahan semangat kita untuk datang ke tempat ini, dibangga banggakan oleh malaikat. Dalam hal apakah malaikat yg ada di langit berbincang-bincang, iri kepada manusia yg ada di bumi, dalam hal apakah malaikat itu berebut amal untuk menggungguli manusia. Waktu itu Rasulullah ada di alam langit pertama, alam yg ada di atas langit, melihat malaikat ramai membicarakan keiriannya, berebut amal, salah satu amal yg paling banyak diperebutkan, amal yg membuat mereka iri (Ghibtah), yaitu : *LANGKAH KAKI YANG SANGAT BANYAK SEKALI MENUJU MASJID.* Tidak hanya untuk laki-laki, wanita boleh, seperti ke majelis ilmu di masjid. Langkah kaki yg menuju masjid paling banyak dibicarakan oleh para malaikat
Tafsir QS. AlQiyamah :
🍑Ayat 36
"Apakah manusia mengira, dia akan dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban"
*Kita kaitkan ayat 36 dengan ayat ke 3* pertanyaannya sama, apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan kembali tulang belulangnya. Dua pertanyaan ini saling berkaitan dan nanti akan dijawab oleh Allah setelah ayat berikutnya, kisah asal mula manusia, manusia tidak dibiarkan begitu saja, ada aturan yg mengatur kehidupan manusia. 
Al Imam Albiqo'i menulis tafsir Addhurar, (di antara kitab tafsir dalam mengkaji keterkaitan antar ayat, beliau konsisten, sehingga kita faham urutan)untaian mutiara yg membahas keterkaitan antar ayat. Tanya jawab di dalam Alquran ini sangat indah, bahkan, bisa mengasah kecerdasan kita, Quran tidak menjawab iya dan tidak. Karena iya atau tidak, jawaban yg tidak mengajak penanya untuk berpikir. Quran itu mengajak penanya untuk berpikir. Quran punya keunikan untuk menjawab. Quran dg pendekatan luar biasa, menjawab dg jawaban mengajak penanya untuk berpikir. Padahal penanyanya orang yang tidak beriman. 
Jika kita tidak merenung dan mengaitkan, kita akan susah untuk menemukan keterkaitan temanya dari ayat 36 dan setelahnya
Apakah manusia itu menduga, menduga itu tidak memakai ilmu. Kalau pakai ilmu, itu iman dan sumbernya dari wahyu. Hidup di dunia ada aturan Allah yg harus kita taati, tapi karena kita mengimani di dalam Alquran, Allah menyampaikannya di Alquran
Pengetahuan berdasarkan waktu itu dinamakan iman.
Kita ga pernah melihat, kecuali nabi Ibrahim ditampakkan oleh Allah, empat ekor burung yg terpisah semua bagian tubuhnya, kembali utuh seperti sedia kala, sedangkan kita tidak tahu, tapi kita meyakini, bahwa setelah kehidupan di dunia kita akan hidup, tahu hal ini dari wahyu. 
Manusia yg diceritakan ayat 36 adalah manusia yang menduga, tidak ada dasar data dan ilmu. Hanya dugaan-dugaan. Menduga tidak menggunakan ilmu = tidak tahu = bodoh. Orang yg tidak beriman hanya menduga. Apa yang mendasari dugaannya? Kenapa orang yg tidak beriman menduga bahwa manusia tidak dibangkitkan setelah mati? Orang kafir menduga dia hidup bebas dan tidak dibangkitkan, yg melandasi dugaan seperti itu ada dua hal, dua duanya dijawab di QS AlQiyamah ayat 37 - 40. Dugaan dari ayat 3 dan 36 sumber dugaannya ada dua, dari rangkaian ini : menduga : tidak penggunaan ilmu - tidak tahu - bodoh
Kenapa Rasulullah menyebut Amr bin Hisyam, laki laki yg sangat pintar di tengah kaum Quraisy tapi oleh Nabi disebut Abu Jahal, bapaknya kebodohan. Abu Jahal itu adalah orang yg banyak menyampaikan sesuatu berdasar dugaan.
Dua alasan yg melandasi dugaan Abu Jahal : 
1. Tidak tahu hikmah penciptaan dunia dan akhirat, sehingga Allah kasih tahu di ayat 37. Kenapa harus ada aturan Allah yg mengatur manusia dan kehidupan setelahnya. Kita itu melakukan sesuatu itu ada tujuan, jika ada orang melakukan sesuatu tidak punya tujuan, orang tersebut uangnya banyak, membangun gedung 12 lantai, jika ditanya, buat apa? Saya anggurin, hanya ingin membangun tidak ada tujuan menyewakan, maka otak kita akan menilai orang tersebut hanya melakukan kesia siaan.
Manusia melakukan sesuatu tanpa tujuan, itu dianggap ga lazim. Contoh, membangun rumah, tapi digunakan untuk melihara sapi, (tujuannya salah)
*Jika mustahil orang melakukan sesuatu tanpa tujuan, maka Allah pun mustahil menciptakan manusia tanpa tujuan.*
Allah yang Maha Bijaksana pasti lebih pintar dari manusia, Allah menciptakan sesuatu itu ada tujuannya. 
Adanya sesuatu itu karena adanya tujuan
Ada satu pemberian yg tidak Allah berikan kepada makhluk lain yaitu akal. Sehingga akal inilah yg menjadi tempat syariat ini berjalan.
Akal bukan sekadar mencari makan dan minum, ini tidak memakai akal, tapi insting. Akal jangan digunakan untuk mencari uang, tapi menggunakan insting atau dorongan
Akal digunakan dalam proses mencari uang
Untuk ingin kaya tidak perlu memakai akal, tapi bagaimana cara bekerja agar diridhoi Allah gunakanlah akal
Syariat Allah ada pada akal kita, sehingga mustahil Allah memberikan akal kepada manusia, kemudian tidak menciptakan aturan akal berinteraksi dg aturan tersebut. Beruntungnya orang yg dirinya dikuasai oleh akalnya bukan dirinya. Akal berasal dari aklun, kata Abu Bakar, ketika ada orang yg mau salat tapi tidak mau bayar zakat, Andai orang yg tidak mau membayar zakat memberikan tali kekang kuda, kuda tidak punta akal, sehingga kuda diatur oleh tali itu. Manusia tidak perlu ditarik, yg perlu pakai tali kekang itu hanya binatang. Antara tali kekang dg kuda, supaya kuda ini larinya sesuai tujuan, akal kita sesuai tujuan yang Allah tetapkan. 
2. Mereka tidak tahu Kemaha Kuasaan Allah, apakah manusia itu menduga tulang belulangnya tidak dikumpulkan? Bagi yg tidak meyukininya, muncul dua pertanyaan, mereka menduga karena mereka tidak tahu Maha Kuasanya Allah, bagaimana cara mereka berpikir bagaimana tulang belulang terpisah bisa dikumpulkan? Bagaimana memisahkan tulang dan daging dengan tanah? 
Orang yg tidak beriman di hari akhir, berpikirnya seperti itu. Ini akan dijawab di ayat ke 39
🍑Ayat 37
"Bukankah dia mulanya hanya setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim)"
Kita bayangkan yg dipancarkan kalau dalam bahasa Arab, nutfah dipancarkan posisinya pasif karena sebenarnya bukan nutfah itu yg ingin keluar tapi yg punya nutfah yang mengeluarkan. Bisakah pemilik nutfah itu mengeluarkan? Tidak bisa, harus punya keinginan yang tinggi, syahwat, bukankah keinginan yg tinggi itu punya tujuan? (Keinginan itu punya tujuan, misal ingin memiliki keturunan)
🍑Ayat 38
"Kemudian mani itu menjadi sesuatu yang melekat, lalu Allah menciptakannya dan menyempurnakannya
🍑Ayat 39
"Lalu Dia menjadikan darinya sepasang laki-laki dan perempuan"
Allah menjadikan dari sperma itu dua pasang laki laki dan perempuan. Kata minhu, berasal dari nutfah yg dipancarkan yaitu laki laki, sehingga para ulama mengatakan jenis kelamin ditentukan oleh nutfah laki laki. 
Orang kafir berpikir bagaimana memisahkan tulang yg terpisah dari tanah, jawabannya pada ayat 39, jumlah sperma yang kecil, kemudian menjadi bayi. Tidak susah bagi Allah antara tulang dg tanah
🍑Ayat 40
"Bukankah (Allah yang berbuat)demikian berkuasa (pula)menghidupkan (orang mati)
Pertanyaan : 
1. Bagaimana dg kondisi seseorang yg bererinteraksi dg wahyu, memiliki pemahaman wahyu yg tinggi, tapi dia tidak bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan? 
Jawaban : 
Alquran itu memberikan bahan renungan untuk sampai pada kesimpulan, sehingga kita tidak terjebak kepada orang yg mendewakan akalnya dan memaksa untuk memenuhi keinginan keinginannya.
Kita tahu kebenaran hasil dari berpikirnya kita lewat bahan pemikiran Alquran, bukan kita tahu kebenaran berasal dari doktrin dan menjadikan Alquran tunduk terhadap hawa nafsu kita. 
Seorang ahli ilmu boleh menunjukkan dirinya jika masyarakat tidak tahu dia ahli ilmu. Tapi jika orang sudah tahu dia ahli ilmu, tidak boleh dia mengekspos dirinya
♡ miya ♡

Agar musibah Anda berpahala... Agar kesedihan Anda seakan tiada

Copy paste dari grup GTA. Semoga bermanfaat. Agar musibah Anda berpahala... Agar kesedihan Anda seakan tiada... ======= Seringkali seseorang...